Obama Tingalkan Asia ,Cina kesal,Indonesia kwatir.


Nusa Dua - Antara melaporkan, dalam sepekan perjalanannya di Pasifik, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama telah membuat kesal pihak Cina dan mengirim pesan ke Asia bahwa AS ingin membentuk masa depan kawasan itu.
Presiden Obama pulang pada Sabtu (19/11) setelah menghadiri tiga temu puncak, mengutamakan tentara AS dengan mengumumkan kehadiran baru marinir AS di Australia dan bertekad memacu perubahan di Myanmar.

Orang nomor satu di AS itu juga menyatakan, kemelut anggaran di Washington tidak akan memengaruhi diplomasi dan tentara AS di wilayah cepat berubah itu. "Tidak diragukan. Pada abad ke-21 di Asia-Pasifik, AS hadir sepenuhnya," kata Presiden Obama.

Perjalanannya ke Hawaii, Australia, dan Indonesia, menyoroti pergeseran kekuatan AS dari perang sedasawarsa untuk yang ia lihat sebagai takdir AS di Asia, yang bergerak. "Kita melihat pelaksanaan peralihan kebijakan kritis, strategis dalam kebijakan AS, menyeimbangkan," kata penasihat keamanan negara Presiden Obama, Tom Donilon.

Tema utama perjalanan Presiden Obama adalah peningkatan persaingan AS dengan Cina.

Kedua negara itu secara ekonomi saling bergantung dan memiliki alasan bersama terbatas atas masalah, seperti, Korea Utara dan Iran. Tapi, mereka semakin bertengkar tentang mata uang, perdagangan dan bahkan keamanan bahari.

Cina marah atas ceramah AS bahwa sebagai ekonomi "dewasa", negara itu harus mematuhi "aturan lapangan" dan untuk saat ini hanya bisa mengharapkan perjanjian baru perdagangan Pasifik, yang berkumpul pada temu puncak APEC di Hawaii.

Presiden Obama menegaskan, AS tidak "takut" Cina, tidak ingin membendungnya atau menolak manfaat kebangkitannya. Tapi, Cina memperingatkannya untuk tidak "memolitikkan" perdagangan atau "mencampuri" sengketa wilayah di laut Cina Selatan.

Shi Yinhong, pakar hubungan antar-bangsa yang mengarahkan kajian AS di Universitas Renmin, Beijing, mengatakan kepada AFP, siasat AS pasti dilihat di Cina sebagai upaya meminggirkan negara itu. "Pemerintah dan pemimpin Cina berulangkali menyatakan kesungguhan kepada AS, menyambut AS bergabung pada temu puncak Asia Timur dan tidak mengungkit kepentingan AS," katanya.

"Tapi, yang disesalkan adalah bahwa niat baik itu tidak mendapat tanggapan baik," Shi, menambahkan.

Washington berusaha membangun kerangka ekonomi dan keamanan kawasan di Asia untuk menyelesaikan sengketa dan meningkatkan perdagangan berdasarkan atas "aturan".

Perjanjian perdagangan Kemitraan Lintas Pasifik, temu puncak Asia Timur di Indonesia, tempat Presiden Obama adalah presiden pertama AS hadir, dan mengembangkan hubungan dengan kelompok Asia Tenggara adalah membangun kelompok dari siasat itu.

Begitu pula dengan garnisun AS di Korea Selatan dan Jepang serta keberkeliaran kapal induk Angkatan Laut negara adidaya itu.

Ernest Bower dari Pusat Kajian Strategis dan Internasional di Washington menyatakan, perjanjian lintas Pasifik itu bisa menjadi kesepakatan "kelas dunia", yang akhirnya "memaksa Cina meninggalkan upayanya membuat cara sendiri untuk menyatukan Asia".

Namun, sejauh ini, Cina hanya melihat perambahan.

Tanggapan kantor berita Cina Xinhua pada Sabtu (19/11) memperingatkan, samudra Pasifik milik semua negara di pantainya, bukan hanya AS, dan menyeru "mitra tepercaya", bukan "penengah" AS.

Cina lebih lama melakukan permainan geopolitik daripada sejumlah presiden AS, yang menghadapi empat atau delapan tahun jam politik, sehingga menganggap tanggapan terhadap lawatan Presiden Obama mungkin muncul lambat.

Kunjungan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton ke Myanmar pada Desember 2011 untuk mendorong upaya perubahan juga dapat memperkuat keterlibatan AS, tapi --sekali lagi-- membuat marah Cina.

Kegiatan AS di laut Cina Selatan dan di Australia, tempat Presiden Obama berencana menyebarkan hingga 2.500 Marinir, juga dipandang dengan curiga oleh Beijing, kata David Steinberg dari Universitas Georgetown.

Namun, Presiden Obama memiliki khalayak lebih menekan di dalam negerinya saat ia berusaha membujuk warga AS bahwa presiden mereka, yang berusaha terpilih kembali dalam pemilihan umum ketat pada 2012, memiliki satu hal dalam pikirannya: pekerjaan.

Dengan demikian, Presiden Obama berperan besar dalam berita bahwa Lion Air Indonesia akan membeli 230 pesawat Boeing 737 senilai 21,7 milar dolar AS (sekitar 217 triliun rupiah) dalam kesepakatan, yang Gedung Putih katakan akan mempekerjakan lebih dari 100.000 orang AS.

Pekerjaan juga alasan AS tinggal di Asia, kata ketua pelaksana Google Eric Schmidt, yang memberikan penjelasan kepada wartawan di Hawaii. "Cara tercepat menciptakan lebih banyak pekerjaan di AS adalah meningkatkan ekspor ke bagian tumbuh paling cepat di dunia, di Asia," katanya. 

Tidak ada komentar:

Daftar Blog FrienDs

Yahoo News: Top Stories

Amazon Music

Tin

Selamat datang